Mengajukan pinjaman ke bank memang sangat menarik. Apalagi, kalau diembel-embeli syarat pengajuan yang mudah. Tidak heran, banyak orang yang tertarik mengajukannya. Namun, siapa sangka kalau dibalik kemudahan dalam mengajukan pinjaman tersebut, ada bahaya yang siap mengintai siapa saja.

Hal inilah yang dirasakan secara nyata oleh Sofyan yang dulunya memiliki rumah di alamat Jalan Raya Kuningan-Cirebon. Karena permasalahan dalam pelunasan utang, Sofyan kini harus rela kehilangan rumah yang dibangunnya dengan keringat penuh perjuangannya tersebut.

Masalahnya sebenarnya sepele. Dia memiliki utang sebanyak Rp120 juta ke sebuah bank. Dalam klausul pinjaman tersebut, dia harus menyetor cicilan per bulan dengan besaran mencapai Rp3,65 juta. Namun, karena keterlambatannya dalam melunasi cicilan, Sofyan kini harus kehilangan rumahnya yang memiliki nilai mencapai Rp800 juta.

Kisah kelam terjerat rantai utang ini dialami oleh Sofyan sejak tahun 2012. Saat itu, dia memperoleh penawaran menarik dari marketing sebuah bank. Dengan pengajuan yang mudah dan persetujuan cepat, Sofyan berniat untuk menggunakan uang hasil utang bank itu sebagai tambahan modal usaha.

Dari perjanjian utang tersebut, Sofyan diberi tenor selama 5 tahun. Artinya, cicilan Sofyan akan berakhir di tahun 2017 dengan besaran yang telah disebutkan di atas. Tak lupa, dia juga diminta untuk memberikan jaminan berupa sertifikat tanah dan rumah miliknya.

Saat tahun pertama dan kedua, Sofyan tidak mengalami permasalahan berarti dalam melakukan pembayaran cicilan. Mengingat, saat itu usahanya berjalan dengan sangat lancar. Namun, masalah mulai muncul di tahun ketiga. Usahanya mulai seret. Hal ini pun berimbas pada pembayaran cicilan ke bank.

Merasa kalau dirinya kesulitan, Sofyan kemudian mengajukan keringanan perpanjangan tenor kepada bank. Pengajuan keringanan itu pun disetujui. Dia diperbolehkan untuk melunasi cicilan hingga tahun 2019. Dengan adanya persetujuan tersebut, Sofyan mengaku sedikit lega.

Namun, siapa sangka kalau permasalahan usaha masih menjadi kendala utama baginya. Tak ayal, Sofyan tetap kesulitan membayar cicilan bulanan. Hingga akhirnya, dia nunggak pembayaran sebanyak 5 bulan. Pihak bank pun akhirnya memberikan peringatan kepada Sofyan.

Dalam peringatan tersebut, Sofyan diminta untuk segera melunasi utangnya. Dia berusaha untuk menjual rumahnya sebagai sarana untuk membayar utang. Sudah ada calon pembeli yang menawar rumahnya seharga Rp800 juta. Hanya saja, transaksi itu terkendala penyitaan rumah yang dilakukan bank.

Kini, Sofyan pun hanya bisa terduduk lemas di rumah kontrakannya yang beralamat di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan. Dia hanya bisa berharap agar pihak bank memberi keringanan kepada dirinya untuk bisa menjual rumahnya tersebut dan selanjutnya akan dipakai untuk membayar utang.

Facebook Comments
(Visited 66 times, 1 visits today)