Setiap manusia memiliki kode genetika yang unik dan berbeda satu sama lain. Bahkan, saudara kembar juga tidak akan mempunyai kesamaan kode genetika. Bahkan, tidak jarang ada saudara kembar yang satu lahir dalam kondisi sehat, sementara yang lain punya tubuh penuh penyakit.

Menilik kondisi seperti itu, para peneliti Universitas Kesehatan dan Sains Oregon, Institut Salk, serta Insitut Sains Dasar Korea Selatan mencoba melakukan sesuatu. Mereka tengah menjalankan penelitian yang bertujuan untuk mengedit kode genetika manusia.

Para peneliti tersebut, seperti dilansir dari BBC, mengatakan kalau kemunculan penyakit kerap terjadi karena adanya kesalahan genetika. Mereka pun ingin menyelesaikan permasalahan ini. Apalagi, penyakit akibat kesalahan genetika tidak bisa disembuhkan dengan metode medis biasa.

Titik awal penelitian metode pengeditan kode genetika ini bermula di tahun 2015. Para peneliti menemukan metode baru yang disebut dengan nama Crispr. Dengan metode ini, seorang penyakit akibat genetika seperti fibrosis sistik ataupun kanker payudara bisa disembuhkan.

Hanya saja, penelitian yang tengah mereka lakukan saat ini secara khusus ditujukan untuk mengobati penyakit akibat kardiomiopati hipertrofik. Penyakit ini menimpa setidaknya 1 dari 500 orang di seluruh dunia. Gejalanya, jantung akan tiba-tiba berhenti berdetak. Parahnya lagi, penyakit ini merupakan penyakit turunan.

Untuk mengatasinya, mereka mencoba untuk memperbaiki sperma seorang penderita kardiomipati hipertrofik dengan teknologi Crispr. Dalam percobaan yang dilakukan, para peneliti tidak selalu berhasil. Namun, setidaknya ada 72% embrio hasil perkawinan sperma kardiomiopati hipertrofik dengan sel telur yang bebas dari mutasi.

Para peneliti pun yakin kalau metode pengeditan kode genetika ini bisa berdampak positif dalam jangka panjang terhadap kehidupan manusia. Terutama, untuk mengatasi penyakit yang menurun. Hanya saja, ada kekhawatiran terhadap tingkat keamanan metode ini. Apalagi, mengedit kode genetika merupakan hal yang baru, dan kalau ditinjau dari segi agama bakal menimbulkan beragam perdebatan.

Selain itu, penggunaan metode ini juga harus melalui penelitian yang lebih lanjut. Terutama, untuk mengetahui seberapa besar dampak positif dan negatif yang ditimbulkan. Oleh karena itu, para peneliti pun tidak berani menjamin kapanteknologi ini akan digunakan. Kalau terjadi kesalahan, bisa-bisa muncul mutan seperti dalam film Marvel… Waduuuh!!

Facebook Comments
(Visited 3 times, 1 visits today)