Surat Izin Mengemudi (SIM) menjadi persyaratan untuk setiap warga Indonesia yang ingin mengendarai kendaraan bermotor di jalanan. Hanya saja, sebagian besar masyarakat ternyata tidak memilikinya. Alasannya pun beragam, dan yang paling sering dikemukakan adalah karena tes praktik SIM yang sulit.

Dengan kondisi seperti itu, banyak orang yang akhirnya memilih jalan pintas. Alih-alih menggunakan jalur pembuatan SIM yang resmi, jasa calo menjadi hal yang ringkas. Meski, hal itu harus dilakukan dengan membayar biaya yang jauh lebih mahal. Bahkan bisa mencapai 7 atau 8 kali lipat.

Terlepas dari kondisi tersebut, ada sebuah informasi menggembirakan bagi orang-orang yang sering gagal dalam tes praktik SIM. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Privilege DriveXpert, orang yang pintar memiliki kecenderungan gagal saat mengajukan SIM.

Data tersebut diperoleh setelah melakukan survei terhadap 1.504 orang yang sudah tercatat memiliki SIM di Inggris Raya. Orang-orang yang memiliki nilai akademis tinggu, butuh waktu yang lebih lama untuk bisa memiliki SIM.

Secara keseluruhan, terdapat sebanyak 59% responden yang mengaku lulus saat pertama kali melakukan ujian SIM. Mereka adalah orang-orang yang punya kemampuan praktik lebih tinggi dibandingkan rata-rata responden yang berada di angka 1,7 kali percobaan.

Namun, kalau ditelisik lebih jauh berdasarkan tingkat pendidikannya, angka kelulusan saat pertama kali ujian SIM mengalami penurunan. Untuk responden yang punya gelar S1, hanya ada 48% yang lulus ujian SIM di percobaan pertama. Sementara untuk orang dengan gelar S2, berada di angka 47%.

Lebih lanjut, untuk seorang mahasiswa dan pelajar yang mengambil bidang seni dan sains memiliki perbedaan mencolok. Untuk mereka yang termasuk orang-orang kreatif di bidang seni, butuh melakukan percobaan ujian SIM rata-rata sebanyak 1,9 kali. Sementara itu, pelajar dan mahasiswa sains, butuh hingga 2,3 kali percobaan.

Kepala peneliti di Privilege DriveXpert, Charlotte Fielding mengatakan kalau kegagalan pertama ujian SIM seharusnya tidak perlu dipikirkan lebih dalam. Dia mengatakan, kemampuan mengemudi bisa dipelajari seiring dengna berjalannya waktu. Hanya saja, dalam penelitian yang dilakukan lembaganya memang membuktikan kalau adanya korelasi kegagalan ujian SIM dengan tingkat intelejensia masyarakat.

Nah, ada yang mau cerita nggak nih, udah gagal ujian SIM berapa kali?

Facebook Comments
(Visited 39 times, 1 visits today)