Memang hanya sepiring nasi dan sepotong roti, tapi sudah cukup untuk membuat hati 2 balita terlantar ini ceria. Paling tidak, mereka bisa mengisi perut hari itu.

Kisah dua bayi di bawah lima tahun ini yang harus bahu membahu untuk makan dan bertahan hidup tanpa bantuan siapapun termasuk bunda mereka sendiri sungguh membuat hati serasa teriris pisau.

Ibu mereka tidak memberikan perhatian kepada mereka selayaknya seorang ibu yang mencintai anak-anaknya. Mereka hidup di pondok berukuran 4x7mm dan beratapkan terpal plastik.

Tempat itu begitu kumuh, hanya ditopang oleh beberapa tiang, dengan dinding terbuat dari kayu tipis tanpa pintu dan jendela, jadi mereka sudah pasti bakal kedinginan saat malam atau saat hujan.

Di dalam ada sebuah ‘kamar’ dimana ayam, bebek dan anjing juga tidur disitu, mungkin lebih pantas disebut kandang daripada kamar tidur. Piring-piring, panci, kain-kain kotor berserakan di ‘rumah’ itu tanpa tercuci atau terurus.

‘Rumah’ inilah tempat dua bocah ini tinggal. Ramadhan, yang cuma berusia 3 tahun dan Nona yang masih berusia 4.5 tahun harus membagi ruangan tidur, makan dan beristirahat ini dengan ayam, bebek, anjing dan piring-piring dan kain-kain kotor.

Mereka sudah tinggal disana sejak sekitar tiga tahun lalu di sebuah bukit kosong, tak jauh dari Perumahan Telkom, Kalasey.

sedihnya kondisi hidup dua balita ini

Nona pergi pagi haru untuk bekerja dan kembali malam hari, entah apa kerjaan-nya, mungkin meminta-minta. Apalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh gadis kecil berusia dibawah lima tahun?

Di saat warga menjenguk, mereka disambut oleh beberapa ekor anjing yang menyambut mereka dengan tidak ramah. Mereka menyalak keras dan membuat Ramadhan keluar dari ‘rumah’ itu tanpa celana dan terlihat sangat lemas.

Nona dan Ramadhan terlihat seudah beberapa hari belum mandi, dan kulit mereka terlihat coklat karena tumpukan kotoran yang belum dibersihkan dari kulit mereka.

balita kekurangan makan dan tidur di tanah

Saat seorang warga yang membawa sepiring nasi dan lauk ikan ke mereka, mereka terlihat sangat senang dan tatapan mata mereka yang tadinya kosong langsung berbinar-binar.

Kedua bocah mungil ini langsung membuka mulut lebar-lebar yang menyunyah nasi dan ikan itu cepat-cepat saking laparnya.

Hanya dalam beberapa menit, satu piriing penuh nasi itu langsung habis bersama satu botol air mineral. Terlihat sekali mereka sangat kelaparan dan kehausan.

Saking kasihannya, warga sekitar menyelipkan sepiring nasi dan lauk atau sepotong roti di pinggir jalan dekat mereka bermain supaya mereka bisa makan dan tetap hidup esok harinya.

kalau ada wakil rakyat yang membaca ini, semoga mata mereka makin terbuka dan hati mereka tersentuh untuk meratakan pembangunan dan kesejahteraan rakyat dan anak-anak kecil yang terlantar. Apalah artinya bila ibukota kita gemerlap seperti berlian namun anak-anak terlantar hidup seperti ini di banyak daerah-daerah yang kurang berkembang?

Para pembaca, kejadian seperti ini ada dimana-mana di tanah air kita yang tercinta. Saat kita mengomel bahwa kita kurang beruntung, ingatlah bahwa ada anak-anak seperti ini di dekat kita.

Tolong bagikan artikel ini ke teman-teman dan keluarga para pembaca supaya mereka sadar betapa beruntungnya mereka bahwa mereka masih bisa makan dan hidup layak.

bagi di facebook bagi di twitter

Facebook Comments
(Visited 13,267 times, 1 visits today)