Menikah adalah tujuan dari setiap orang yang menjalin hubungan asmara. Tak jarang, rasa cinta yang muncul pun membuat orang-orang tak peduli dengan faktor fisik ataupun kondisi pasangannya. Salah satunya adalah faktor usia, karena banyak yang menganggap kalau cinta tak mengenal usia.

Namun, pada kenyataannya apakah memang seperti itu? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Emory di Atlanta, Amerika Serikat pun berusaha untuk mencari hubungan antara selisih usia pasangan dengan kelanggengan rumah tangga. Dalam studi tersebut, mereka melibatkan sebanyak 3 ribu responden.

Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Para peneliti mengungkapkan, selisih usia antara pasangan ternyata berdampak besar pada perpisahan setelah menikah. Semakin besar selisih usianya, maka semakin besar pula risiko perpisahan yang terjadi.

Mereka mengungkapkan, pasangan dengan selisih usia mencapai 10 tahun punya risiko berpisah sebanyak 39 persen dibandingkan pasangan dengan usia yang sama. Sementara itu, pasangan dengan selisih usia 5 tahun, punya risiko 5 persen lebih besar dibandingkan dengan pasangan sepantaran. Lalu, bagaimana dengan pasangan dengan selisih umur 20 tahun? Untuk hal yang satu ini, para peneliti mengatakan kalau mereka tidak memiliki data yang valid.

Selanjutnya, mereka juga mengungkapkan kalau selisih usia yang paling ideal agar risiko perpisahan setelah menikah sangat kecil adalah selisih 1 tahun. Dalam data statistik yang mereka susun berdasarkan jawaban dari para responden, terungkap kalau risiko perpisahan pasangan dengan selisih usia 1 tahun hanya sebesar 3 persen.

Namun, tentu penelitian ini juga tidak bisa dijadikan patokan mutlak bagi pasangan yang ingin segera menikah. Kalaupun kamu saat ini punya pasangan dengan selisih usia 5 ataupun 10 tahun, bisa jadi pernikahanmu bakal berlangsung secara langgeng. Mengingat, hubungan antara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kebiasaan, penanganan konflik, anak, dan lain-lain.

Selain itu, hal mendasar yang perlu diperhatikan dari penelitian ini adalah, lokasi para responden. Penelitian ini dilakukan terhadap pasangan yang hidup di Amerika. Secara kultur budaya, tentu saja kondisi di sana sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. So, bisa jadi dan bahkan kemungkinan besar hasilnya akan berbeda kalau penelitian serupa dilakukan di Indonesia. Bukankah begitu?

Facebook Comments
(Visited 3 times, 1 visits today)