Di era serba modern seperti sekarang, banyak orang yang percaya kalau ada pihak yang tengah menyimpan konspirasi besar. Salah satunya adalah konspirasi mengenai bentuk bumi. Orang-orang yang menamakan dirinya sebagai flat earth society atau komunitas bumi datar merupakan kelompok yang sering menyuarakan bahwa bumi tidak berbentuk bulat, melainkan datar.

Kampanye yang mereka lakukan pun sangat masif, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Salah satu contoh ekstremnya adalah tindakan seorang anggota komunitas bumi datar asal Amerika Serikat bernama ‘Mad’ Mike Hughes. Pria ini sudah merencanakan secara matang penerbangannya ke luar angkasa menggunakan roket buatannya sendiri.

Kabar mengenai peluncuran roket oleh Hughes pun ramai di jagat maya. Dia pun berkeinginan melaksanakan penerbangan tersebut pada tanggal 25 November 2017 lalu. Dia mengatakan kalau roket yang bakal ditumpanginya ke luar angkasa tersebut bakal menjadi bukti kalau bumi sebenarnya berbentuk datar, bukan bulat.

Namun, saat memasuki jadwal peluncuran tersebut, apa yang terjadi? Hughes secara mengejutkan membatalkan peluncuran roket. Dalam kabar yang dikutip dari Daily Mail, Hughes mengatakan kalau dirinya tidak mengetahui perlu izin khusus untuk menerbangkan roket ke luar angkasa. Dia mengatakan ada seorang petugas dari Bureau of Land Management Amerika Serikat yang mendatangi dan melarangnya.

Di waktu yang sama, Hughes juga mengatakan kalau terdapat problem mekanik pada peluncur roket yang sedianya dia gunakan. Pengumuman peluncuran tersebut diumumkan secara langsung oleh Hughes lewat akun YouTube-nya. Di waktu yang sama, Hughes mengatakan kalau dia menjadi orang yang paling kecewa karena batalnya peluncuran ini.

Meski batal terbang pada tanggal 25 November lalu, Hughes mengaku dirinya tidak akan berhenti. Hal yang terjadi saat ini hanyalah penundaan. Apalagi, pria yang bekerja sebagai sopir limusin itu telah menghabiskan dana sebesar 20 ribu USD atau setara Rp270 juta untuk membangun roket. Roket itu, menurutnya, bisa terbang dengan kecepatan mencapai 800 km per jam dan mencapai ketinggian 550 meter di atas permukaan bumi.

Peluncuran roket itu sedianya merupakan proyek awal untuk rencana besar Hughes saat terbang ke angkasa. Pria berusia 61 tahun tersebut telah menghabiskan waktu selama beberapa tahun terakhir membangun roket itu di garasi rumahnya. Namun, apa daya. Uang serta waktu yang dihabiskannya telah digunakan dan roket tersebut tak bisa terbang.

Hughes tetap percaya kalau bumi berbentuk datar. Bahkan, para astronot yang telah terbang ke angkasa menurutnya merupakan bagian dari konspirasi. Demikian pula peluncuran roket yang dilakukan oleh Elon Musk, CEO Tesla yang juga merupakan salah satu orang terkaya dunia. Dia menuduh roket Musk tersebut sebagai roket palsu.

Facebook Comments
(Visited 18 times, 1 visits today)