Beberapa waktu lalu, sempat muncul informasi broadcast yang beredar luas lewat aplikasi messenger WhatsApp. Dalam artikel tersebut, disarankan untuk tidak terus menerus menghangatkan nasi di dalam rice cooker atau magic jar. Alasan utamanya adalah, karena aktivitas tersebut bisa memunculkan risiko kanker dan diabetes.

Kabar ini pun sempat viral dan dibagikan oleh banyak pengguna WhatsApp. Namun, tentu saja, masyarakat tidak boleh terlalu mempercayai kabar tersebut. Apalagi, saat ini sering muncul informasi hoax tanpa sumber jelas yang beredar lewat jejaring sosial dan aplikasi messenger.

Seorang ahli gizi dari Universitas Kedokter Universitas Indonesia, Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc pun mengeluarkan pendapatnya terkait kabar viral ini. Dia menyebutkan, kalau nasi memiliki kandungan yang disebutnya sebagai indeks glikemik dan berpengaruh terhadap tingkat kandungan gula darah dalam tubuh. Hal ini tentu saja berdampak pada diabetes.

Konsumsi bahan makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi, ujar Saptawati, bisa berpengaruh terhadap diabetes. Namun, perlu diketahui kalau dampak tersebut tidak terjadi secara langsung. Namun, membutuhkan waktu dalam durasi yang panjang. Selain terkait dengan diabetes, berbagai penelitian juga mengungkapkan kalau glikemik berpengaruh pada penyakit lain seperti jantung, kanker, serta obesitas.

Lalu, bagaimana kalau makanan dengan glikemik tinggi itu dipanaskan secara terus menerus? Saptawati mengungkapkan, hal ini tentu saja berpengaruh pada proses gelatinisasi yang terjadi pada bahan makanan tersebut. Kalau dilakukan dalam waktu yang lama, hal ini akan berdampak pada penurunan kadar serat dan meningkatkan kandungan glikemik.

Oleh karena itu, Saptawati menyarankan agar masyarakat umum memasak nasi dalam jumlah yang wajar. Tidak terlalu banyak yang akhirnya mengharuskan mereka untuk terus menghangatkannya. Pastikan, nasi yang dimasak bisa habis untuk satu kali waktu makan. Misalnya, hanya saat makan siang atau makan malam.

Dengan melakukan hal tersebut, risiko terjadinya peningkatan indeks glikemik pada nasi bisa dicegah. Hal ini akhirnya berdampak pada menurunnya risiko kemunculan diabetes, jantung, dan kanker saat mengonsumsi nasi. Selain itu, hal ini juga merupakan salah satu cara untuk menghemat pengeluaran rumah tangga, bukan?

 

Facebook Comments
(Visited 27 times, 1 visits today)