Vaksinasi menjadi program kesehatan yang dilakukan untuk pencegahan terhadap jenis penyakit tertentu. Program ini disarankan oleh badan kesehatan dunia, WHO. Berbagai negara pun menjalankan kebijakan ini, termasuk di antaranya adalah Indonesia dan beberapa negara lain.

Hanya saja, tidak semua vaksinasi ternyata berjalan dengan baik. Salah satunya adalah program vaksinasi yang berlangsung di negara Filipina. Di negara tersebut, baru-baru ini dijalankan program imunisasi untuk pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Dalam program tersebut, mereka menggunakan vaksin yang bernama Dengvaxia, dibuat oleh perusahaan bernama Sanofi. Namun, siapa sangka kalau kemampuan penyakit ini dalam menangkal penyakit DBD ternyata masih belum teruji. Bahkan, ada kemungkinan kalau penyakit malah memperparah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Di sisi lain, proses vaksinasi telah berjalan masif di beberapa sekolah di Filipina. Bahkan, jumlah anak yang telah memperoleh vaksin Dengvaxia mencapai lebih dari 730 ribu anak. Parahnya, Pemerintah Filipina baru mengetahui dampak buruk vaksin ini setelah kemunculan tanda-tanda tidak baik pada anak yang telah memperoleh vaksin.

Akibat kejadian tersebut, Kementerian Kesehatan Filipina saat ini menghentikan pemberian vaksin Dengvaxia, yang sebenarnya ditujukan untuk anak usia 9 tahun ke atas. Juru bicara Kementerian Kesehatan Filipina Eric Tayag mengungkapkan kalau pihaknya saat ini tengah mempersiapkan kemungkinan terburuk yang harus mereka tangani.

Pihak Sanofi sendiri mengungkapkan kalau vaksin yang mereka buat harus digunakan dalam kondisi khusus. Kalau digunakan secara tepat, vaksin ini, ujar pihak Sanofi, mampu memberikan proteksi kepada anak yang sebelumnya pernah menderita penyakit DBD.

Para peneliti pun banyak yang menyangsikan kemampuan vaksin Dengvaxia dalam pencegahan penyakit DBD. Mereka menganggap kalau vaksin ini tidak sempurna dan tidak bisa memberi perlindungan terhadap empatjenis virus dalam tes klinis yang telah dilakukan.

Sejatinya, penyakit DBD tidak memberikan dampak yang sangat buruk, terutama dibandingkan penyakit lain seperti Malaria. Meski begitu, penyakit ini menjadi penyebab kematian setidaknya 20 ribu jiwa per tahun. Tidak hanya itu, DBD juga setiap tahunnya menginfeksi lebih dari ratusan ribu orang.

 

Facebook Comments
(Visited 4 times, 1 visits today)