Pekerjaan rumah (PR) kerap menjadi tugas yang harus diselesaikan oleh setiap murid ketika sepulang sekolah. Harapannya, tugas tersebut menjadi momen untuk belajar bagi para siswa dan selanjutnya akan memperoleh penilaian dari guru. Hanya saja, tak jarang ada saja siswa yang tak mengerjakan PR. Alasannya beragam, mulai dari lupa hingga memang disengaja.

Dalam kondisi tersebut, seorang guru pun kerap memberikan hukuman kepada siswa yang diketahui tak mengerjakan PR. Kasus inilah yang menimpa seorang bocah asal India berusia 13 tahun di sekolah Shri Bhavashwari Sandesh Vidyalay yang terletak di Desa Chandgad, Mahashtra, India. Bocah itu diharuskan untuk melakukan sit-up sebanyak 500 kali oleh gurunya.

Namun, tentu saja hal tersebut sangat sulit dipenuhinya. Mengingat, kondisi fisik siswi tersebut memang tidak kuat untuk menyelesaikan sit-up sebanyak itu. Hingga akhirnya, siswi itu dilarikan ke rumah sakit. Sementara itu, kepala sekolah Shri Bhavashwari Sandesh Vidyalay yang bernama Ashwini Devan, harus berhadapan dengan pihak berwajib karena kasus ini.

Ashwini dituduh telah melakukan kejahatan yang menyebabkan luka berat pada siswinya. Tindakan guru di sekolahnya yang memberikan hukuman sebanyak 500 kali sit-up dianggap sebagai tindakan yang membahayakan keselamatan siswi tersebut. Menurut pengakuan Ashwini, siswi itu telah menyelesaikan sebanyak 300 kali sit-up hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Pada waktu itu, siswi sekolah swasta tersebut mengeluh kalau kaki kanannya terasa sakit dan terus bergetar. Dokter Ramanand yang menangani siswi itu membenarkan hal tersebut. Bahkan, dia mengatakan kalau getaran itu masih dirasakannya, yang merupakan manifestasi trauma mental. Untungnya, tidak ada kerusakan syaraf pada tubuh bocah tersebut.

Murid perempuan itu ternyata tidak sendiri. Pada kejadian ini, terdapat delapan orang tua yang melaporkan hal serupa kepada ihak berwajib. Dalam laporan di kepolisian setempat, kejadian pemberian hukuman tidak manusiawi tersebut berlangsung pada tanggal 24 November. Ashwini pun sempat ditahan karena kejadian ini. Namun, kepala sekolah itu dibebaskan setelah ada pihak yang memberikan jaminan.

Kejadian ini memang tidak membuat siswi tersebut kehilangan nyawa. Namun, tak menutup kemungkinan kalau trauma yang menimpanya bakal membekas dalam waktu lama. So, ini pelajaran penting buat para guru, ya.

Facebook Comments
(Visited 25 times, 1 visits today)